KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmatnya, maka makalah Ekonomi Pembangunan ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis menjelaskan peningkatan mutu pendidikan sebagai solusi pembangunan nasional dalam makalah ini. Makalah ini terbagi sub bab yang membahas mengenai kualitas pendidikan, faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan, dan solusi atas permasalahan pendidikan yang tejadi di Indonesia.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dosen Mata kuliah Ekonomi Pembangunan, atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari tanpa bantuan dan kerjasama semua pihak, makalah ini tidak akan terselesaikan dengan baik. Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.

Bogor, Mei 2010

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I 1
PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang Masalah 1
1.2. Perumusan Masalah 2
1.3. Tujuan Penulisan 2
1.4. Manfaat penulisan 2
BAB II 4
LANDASAN TEORI 4
BAB III 6
METODE PENULISAN 6
3.1. Jenis dan Sumber Data 6
3.2. Analisis Data 6
BAB IV 7
PEMBAHASAN 7
4.1. Kualitas Pendidikan di Indonesia 7
4.2. Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan di Indonesia 8
4.2.1. Permasalahan Akses Pendidikan 8
4.2.2. Permasalahan Kualitas dan Relevansi 10
4.3. Solusi dari permasalahan pendidikan di Indonesia 12
4.3.1. Mengatasi Permasalahan Akses 12
4.3.2. Mengatasi Permasalahan Kualitas dan Relevansi 14
BAB V 16
PENUTUP 16
5.1. Kesimpulan 16
5.2. Saran 16
DAFTAR PUSTAKA 18
LAMPIRAN 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Dunia telah memasuki era globalisasi yang syarat akan persaingan. Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka Indonesia harus terus mengembangkan dan meningkatkan mutu sumber daya manusia yang dimiliki. Peningkatan mutu sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan. Salah satu upaya peningkatan mutu sumber daya manusia dapat dilakukan dengan meningkatkan mutu pendidikan, karena pendidikan adalah human invesment yang merupakan salah satu indikator penentu kualitas sumber daya manusia yang ada di sebuah negara
Data dari UNESCO (2000) menunjukkan tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999). Data lain menunjukkan hal yang sama, menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia, dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.
Data tersebut menunjukkan buruknya tingkat pendidikan di Indonesia serta diperlukannya peningkatan mutu sumber daya manusia. Hal tersebut menyebabkan pemerintah bersama dengan berbagai kalangan telah dan terus berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih bermutu antara lain melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pemberian pendidikan dan pelatihan bagi guru. Tetapi upaya pemerintah tersebut belum memberikan dampak yang signifikan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Adapun permasalahan khusus dalam pendidikan di Indonesia yaitu rendahnya sarana fisik, rendahnya kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya prestasi siswa, rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, mahalnya biaya pendidikan. Solusi yang tepat sangat dibutuhkan untuk memecahkan berbagai masalah pendidikan tersebut, agar mutu pendidikan meningkat dan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai pondasi Pembangunan Nasional

1.2. Perumusan Masalah
1. Bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia?
2. Apakah faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia?
3. Bagaimana solusi yang dapat diberikan dari berbagai permasalahan pendidikan yang terjadi di Indonesia?

1.3. Tujuan Penulisan
1. Mendeskripsikan kualitas pendidikan di Indonesia saat ini.
2. Mengkaji faktor-faktor penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.
3. Mendeskripsikan solusi yang dapat diberikan dari permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia.

1.4. Manfaat penulisan
1. Bagi pemerintah
Dengan penulisan makalah ini, diharapkan dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas Pendidikan di Indonesia.
2. Bagi guru
Dengan penulisan makalah ini dapat membantu para pengajar memperbaiki proses pengajaran serta membantu para muridnya menggapai prestasi.
3. Bagi Mahasiswa
Penulisan makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan kajian belajar dalam rangka meningkatkan prestasi diri pada khususnya dan meningkatkan kualitas pendidikan pada umumnya.

BAB II
LANDASAN TEORI

Secara konseptual pembangunan adalah segala upaya yang dilakukan secara terencana dalam melakukan perubahan dengan tujuan utama memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup masyarakat, meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas manusia. Perbaikan taraf hidup memerlukan prakondisi infrastruktur, sarana dan prasarana yang semua ini dapat memberi pengaruh terhadap peningkatan harkat dan martabat bangsa. Pembangunan nasional seharusnya diarahkan untuk mencapai keberhasilan ini yakni peningkatan harkat dan martabat bangsa (Ali, 2009).
Kondisi Indonesia yang baik secara geografis dan politis, seta posisi geostrategik yang dapat menjadi modal besar dalam upaya pembangunan nasional. Modal besar tersebut akan dapat digunakan secara efektif dan efisien terutama jika dikelola secara bijak dan ditunjang oleh kemampuan yang tinggi dari para pengelola dan rakyatnya. Kenyataan tersebut memperlihatkan bahwa kualitas sumber daya manusia memegang peranan yang penting dalam mensejahterakan suatu bangsa. Peningkatan kualitas sumber daya manusia agar menjadi negara yang makmur dapat dimulai dari membangun sumberdaya manusia melalui pendidikan atau memegang prinsip education first, prosperity follows (Ali, 2009).
Partisipasi masyarakat sebagai subjek dalam pembangunan sangat penting. Pembangunan tidak akan mencapai hasil yang optimal dan keberhasilan yang dicapai tidak dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat secara merata tanpa partisipasi aktif mereka. Meskipun demikian, dalam batasan-batasan tertentu melibatkan partisipasi aktif setiap lapisan dan anggota masyarakat terkadang menemui berbagai kendala dan permasalahan, di antaranya adalah kendala kemampuan dan kompetensi. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana secara terus-menerus dilakukan upaya agar kendala kemampuan yang dimiliki oleh semua lapisan dan anggota masyarakat dapat teratasi sehingga mereka dapat berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional dan dapat pula menikmati hasil pembangunan yang dicapai. Upaya yang paling efektif untuk mengatasi kendala tersebut adalah melalui pendidikan (Ali, 2009).
Pengertian pendidikan menurut menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pengertian tersebut sejalan dengan Undang-undang Republik Indonesia No.2 Bab II Pasal 4 Tahun 1989 menjelaskan bahwa Sistem Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Hasil dari pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan Pembangunan Nasional.

BAB III
METODE PENULISAN

3.1. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan pada tulisan ini adalah data sekunder. Penulis memperoleh data sekunder dari berbagai sumber pustaka yang berkaitan dengan pendidikan, seperti data sensus, data dari organisasi tertentu, Undang-Undang, tulisan penulis lain, serta pustaka lainnya.

3.2. Analisis Data
Data diperoleh dari studi pustaka atau kutipan dari berbagai tulisan serta dokumen lain yang dianalisis sejak pertama kali pengumpulan data hingga pengumpulan data berakhir. Data yang telah terkumpul kemudian melalui proses pemilihan, pemusatan, serta penyederhanaan data kasar untuk dibuat kesimpulan berdasarkan sub tema yang penulis angkat. Proses tersebut dilakukan dengan harapan akan menghasilkan suatu outline makalah yang dapat memudahkan penulis untuk menyelesaikan makalah ekonomi pembangunan secara terstruktur.

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Kualitas Pendidikan di Indonesia
Kualitas pendidikan Indonesia jelas masih sangat tertinggal jika dibandingkan dengan Negara Negara tetangga seperti, Malaysia, Singapura, dan Brunei. Hal tersebut dapat dilihat melalui Human Development Index/ Indeks Pembangunan Manusia pada tahun 2006 , jika dibandingkan dengan beberapa Negara tetangga, Indonesia menempati urutan ke-108 dari 177 Negara, angka ini masih sangat jauh jika melihat Singapura, Brunei, dan Malaysia yang masing-masing menempati urutan 25, 34 dan 61. Peringkat HDI tersebut menempatkan Indonesia di level menengah sedangkan, Singapura, Brunei dan Malaysia berada pada level tinggi.
Namun trend positif menandai indeks pembangunan di Indonesia yang secara linier mengalami kenaikan Pada tahun 2007 dimana IPM Indonesia mengalami kenaikan menjadi 0.728 dari 0,711 pada tahun 2006, laporan ini dikeluarkan oleh UNDP pada 27 November 2007, namun hal tersebut tidak mengubah urutan Indonesia yang masih berada pada peringkat 108 sedunia dan masih dibawah Vietnam. Penilaian tersebut diantaranya usia harapan hidup menempatkan Indonesia pada posisi ke-100. Tingkat pemahaman aksara dewasa di Indonesia menempati urutan 56. Tingkat pendaftaran di sekolah dasar, lanjutan dan tinggi ada di urutan 110. Sedangkan untuk pendapatan domestik bruto (PDB) per kapita berada di posisi 113. Pencapaian IPM Indonesia beberapa tahun terakhir tentu berjalan linier dengan proses pembangunan manusia yang diterapkan pada program-program pembangunan. Indeks ini merupakan sebuah raport pembangunan manusia yang dicapai oleh pemerintah dan bangsa Indonesia.
Deskripsi kuantitatif tersebut dapat menyadarkan semua elemen bangsa bahwa masih banyak kekurangan atau masalah yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Perhatian khusus ditujukan pada pemerintah untuk mampu bangkit mengejar ketertinggalan, dengan melakukan penataan kedalam (birokrasi). Demikian pula kita harapkan kebijakan publik yang lahir akan semakin mementingkan pembangunan manusia, sehingga terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur bukan semakin menjauh dari sasaran.
4.2. Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan di Indonesia
Hingga saat ini, setelah lebih dari 63 tahun kemerdekaan Indonesia, kita masih menghadapi menghadapi kenyataan yang menunjukkan bahwa cita-cita luhur mencerdaskan kehidupan bangsa belum terwujud secara optimal. Hal ini tentunya menjadi penghalang dalam meningkatkan pembangunan di Indonesia. Saat ini setidaknya ada dua masalah besar yang mendasari buruknya kualitas pendidikan di Indonesia, pertama, permasalahan akses pendidikan, yakni pemerataan kesempatan bagi setiap warga Negara untuk memperoleh pendidikan dan kedua, permasalahan kualitas dan relevansi pendidikan, yang dapat menyebabkan kurangnya daya saing lulusan. Kedua permasalahan ini erat kaitannya dengan tata kelola dan akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pendidikan yang juga berdampak kepada citra masyarakat terhadap pendidikan nasional.

4.2.1. Permasalahan Akses Pendidikan
Kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan, merupakan hal yang dilindungi oleh undang-undang, tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 Bab III. Kesempatan itu diberikan kepada setiap warga Negara tanpa melihat latar apapun, baik keterjangkauan daerah tempat tinggal, etnis, agama, gender, status sosial-ekonomi maupun keunggulan fisik atau mental. Dewasa ini kita masih menjumpai berbagai kenyataan yang menunjukkan bahwa masih terkendalanya kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang dialami oleh anak-anak yang hidup di daerah-daerah terpencil. Masalah ini bukan hanya terkait akses terhadap pendidikan berkualitas semata, tetapi pendidikan dengan tingkat kelayakan atau kualitas yang terbatas pun masih sangat sulit untuk diperoleh.
Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sisdiknas menetapkan pendidikan kategori pertama ini, yaitu yang termasuk program wajib belajar adalah jenjang pendidikan dasar selama sembilan tahun, yang meliputi SD/Mi dan SMP/Mts. Jenjang pendidikan berikutnya, yaitu pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, bukan termasuk kategori program wajib belajar. Jenjang-jenjang pendidikan ini meskipun pada prinsipnya setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama untuk mengikuti pendidikan pada jenjang-jenjang pendidikan itu, namun ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi untuk memasukinya, oleh karena itu, akses diberikan kepada mereka yang memenuhi persyaratan tersebut. Sedangkan yang tidak mampu memenuhi persyaratan tersebut tidak mampu memperoleh akses untuk pendidikan. Fenomena tersebut adalah bentuk dari kesenjangan pendidikan di Indonesia.
Kesenjangan pendidikan yang terjadi di Indonesia dapat dilihat dari angka partisipasi sekolah pada pedesaan dan perkotaan. Pada tahun 2003 rata-rata APS penduduk perdesaan usia 13-15 tahun pada tahun 2003 sebesar 75,6 %. Sementara APS penduduk perkotaan untuk periode dan kelompok usia yang sama sudah mencapai 89,3 %. Kesenjangan yang lebih nyata terlihat untuk kelompok usia 16-18 tahun. APS penduduk perkotaan tercatat sebesar 66,7 % sedangkan penduduk perdesaan sebesar 38,9% atau separuh penduduk perkotaan.
Data Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2003 menunjukkan bahwa faktor ekonomi (75,7%) merupakan alasan utama putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan, baik karena tidak memiliki biaya sekolah (67,0%) maupun karena harus bekerja (8,7%). Hal ini menunjukkan bahwa tingginya angka partsipasi sekolah pada masyarakat kota dan penduduk kaya dikarenakan tingkat pendapatan mereka relatif lebih tinggi dibanding penduduk yang tinggal di desa dan masyarakat miskin.
Status pendidikan penduduk di perkotaan dan perdesaan bisa dikaitkan dengan besar pengeluaran rumah tangga mereka per bulan. Mayoritas penduduk di desa memiliki besar pengeluaran rumah tangga Rp 100.000-Rp 149.000 sebulan. Sementara penduduk di kota lebih besar pengeluarannya, yaitu pada rsentang Rp 200.000-Rp 299.000. Ada dua hal yang melatar belakangi lebih besarnya pengeluaran rumah tangga per bulan penduduk perkotaan dibandingkan dengan perdesaan. Pertama, biaya hidup di kota lebih tinggi sehingga pengeluaran pun lebih besar. Kedua, penghasilan penduduk perkotaan lebih besar. Ketimpangan ini secara tidak langsung berdampak pada kesempatan mereka meperoleh pendidikan. Jumlah pengeluaran yang lebih besar penduduk perkotaan mampu mengalokasikan dana lebih besar pula untuk pendidikan.
Berdasarkan data dari Biro pusat Statistik tahun 2004, Kesenjangan akses pendidikan juga dapat dilihat dari angka melek aksara. Penduduk melek aksara usia 15 tahun ke atas sekitar 90,4 %, dengan perbandingan laki-laki sebesar 94,6% dan perempuan sebesar 86,8%, dengan penyebaran di perkotaan sebesar 94,6% dan di perdesaan 87%. Berdasarkan kelompok usia penduduk, angka melek aksara terbesar adalah pada kelompok usia 15-24 tahun yaitu sekitar 98,7%. Ini menunjukkan keberhasilan dari program wajib belajar 9 tahun. Angka buta aksara pada kelompok usia ini masih ada sekitar 1,3 % yang buta aksara.
Masih adanya buta aksara ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :
1. masih terjadinya anak putus sekolah, khususnya pada kelas-kelas rendah di SD yaitu sekitar 250 ribu anak (tahun 2003) yang sebagian besar akan menjadi buta aksara,
2. sebagian dari yang melek aksara baru akan kembali menjadi buta aksara karena kemampuan literasi yang telah dimiliki tidak digunakan lagi,
3. menurunnya perhatian pemerintah daerah dan masyarakat terhadap upaya pemberantasan buta aksara.
Di samping putus sekolah, masih terdapat pula sejumlah besar anak-anak usia sekolah yang tidak dapat bersekolah sama sekali karena persoalan ekonomi sehingga jika tidak ditangani segera akan menambah jumlah buta aksara secara signifikan.

4.2.2. Permasalahan Kualitas dan Relevansi
Permasalahan kedua yang dihadapi oleh pendidikan nasional kita terkait dengan peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan. Peningkatan kualitas dan relevansi sangat erat hubungannya dengan upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat serta daya saing bangsa. Kualitas pendidikan selain dapat dilihat dari kemampuan lulusan juga dapat dilihat dari meningkatnya penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kemanusiaan yang meliputi keteguhan iman dan takwa serta berakhlak mulia, etika, kepribadian, karakter dan wawasan kebangsaan, ekspresi estetika, dan kualitas jasmani. Indikator peningkatan kualitas pendidikan diukur dari kecakapan akademik dan non-akademik yang memungkinkan lulusan dapat bradaptasi terhadap perubahan masyarakat dalam berbagai bidang baik di tingkat lokal, nasional maupun global.
Sebagai contoh hasil belajar siswa merupakan indikator kualitas pendidikan yang sering digunakan. Untuk mengenali keadaan kualitas ini diantaranya digunakan hasil ujian atau studi-studi tentang kemampuan siswa, baik secara nasional maupun internasional. Dilihat dari hasil ujian, kualitas pendidikan masih menghadapi masalah, yakni masih rendahnya kualitas hasil belajar yang ditandai oleh standar kelulusan yang ditetapkan, yaitu 4,25 dari skala 10 dan 4,50 pada tahun 2008. Seorang siswa dinyatakan lulus meski hanya mampu menyerap mata pelajaran sebesar 4,25%. Dengan standar kelulusan yang rendah pun masih banyak siswa yang tidak lulus pada ujian Nasional 2007. Jika melihat Negara tetangga standar kelulusan yang ditetapkan di Indonesia masih tergolong rendah, dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura yang menetapkan standar kelulusan siswanya di atas angka lima. Kondisi ini mencerminkan kurang mampunya negara kita bersaing dengan negara-negara tetangga, walaupun angka kelulusan ujian nasional setiap tahun cenderung mengalami kenaikan namun masih tetap di bawah negara-negara asia lain yang mematok angka di atas enam.
Faktor lain yang berpengaruh kepada kualitas dan daya saing pendidikan adalah berbagai masukan pendidikan, baik terkait dengan proses pembelajaran maupun pengelolaan pendidikan secara keseluruhan. Hal ini dilihat dari fungsi pengawasan pendidikan, baik yang dilakukan oleh tenaga fungsional seperti pengawas sekolah untuk tingkat SD/Mi dan atau penngawas bidang studi untuk tingkat SMP/Mts dan SMA/MA, maupun pengawasan oleh kepala sekolah sebagai manajer sekolah. Kelemahan pada aspek perencanaan, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar tidak termonitor secara efektif oleh para pengawas, sehingga kelemahan-kelemahan pada proses pembelajaran tidak dapat teridentifikasi secara akurat.
Komponen masukan pendidikan yang secara signifikan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pendidikan meliputi : (1) guru dan tenaga kependidikan yang belum memadai baik secara kuantitas, kualitas maupun kesejahteraannya, (2) prasarana dan sarana belajar yang belum tersedia dan belum didayagunakan secara optimal, (3) pendanaan pendidikan yang belum memadai untuk menunjang kualitas pembelajaran dan (4) proses pembelajaran yang belum efisien dan efektif
Faktor yang mempengaruhi masalah peningkatan kualitas dan daya saing adalaha anggaran pendidikan yang belum memadai, baik ketersediaannya maupun dalam efisiensi pengelolaannya. Komitmen pemerintah dalam melaksanakan UUD 1945 dan UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam alokasi pendidikan dari APBN/APBD, dan penyelenggaraan pendidikan dasar tanpa memungut biaya secara bertahap sudah diwujudkan. Namun realisasi anggaran pendidikan 20% dari APBN dan APBD baru dimulai pada tahun anggaran 2009, sehingga permasalahan terkait belum sepenuhnya terpecahkan.
Dalam kaitan dengan permasalahan relevansi pendidikan, perspektif analisis ekonomi dan ketenagakerjaan terhadap pendidikan tetap diperlukan, namun belum lengkap atas dasar perspektif pembentukan manusia dan masyarakat Indonesia seutuhnya. Analisis ini diarahkan pasa keseimbangan struktural antara struktur ekonomi dan ketenagakerjaan di satu pihak dengan struktur pendidikan di lain pihak. Sistem pendidikan dianggap relevan jika memiliki keseimbangan secara struktural dengan sistem ekonomi dan ketenagakerjaan. Artinya, bahwa lulusan pendidikan memiliki kesesuaian dengan kebutuhan tenaga kerja sebagai pelaku pembangunan di berbagai sektor.

4.3. Solusi dari permasalahan pendidikan di Indonesia
Agar pendidikan nasional berjalan pada jalurnya, maka diperlukan upaya-upaya yang diharapkan dapat memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada. Upaya-upaya itu sebenarnya merupakan langkah awal dalam pembangunan pendidikan dalam konteks pembangunan nasional. Berikut ini adalah solusi yang dapat dilakukan guna memperbaiki pendidikan nasional sehingga mampu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

4.3.1. Mengatasi Permasalahan Akses
Sampai dengan tahun 2009 dilakukan berbagai upaya sistematis dalam pemerataan dan perluasan pendidikan, khususnya dalam konteks pelaksanaan wajib belajar sembilan tahun. Penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun memperhatikan pelayanan yang adil dan merata bagi penduduk yang menghadapi hambatan ekonomi dan sosial-budaya (yaitu penduduk miskin, memiliki hambatan geografis, daerah perbatasan, dan daerah terpencil). Demikian juga anak-anak yang memiliki kelainan fisik, emosi, mental serta intelektual. Strategi yang diambil antara lain dengan membantu dan mempermudah mereka yang belum berkesempatan mengikuti pendidikan, baik di sekolah atau di madrasah, putus sekolah, serta lulusan SD/MI/SDLB yang tidak melanjutkan ke SMP/MTs/SMPLB yang masih besar jumlahnya, untuk memperoleh layanan pendidikan. Dalam strategi ini juga ditempuh penerapan kelas-kelas inklusi, yakni dengan memberi kesempatan kepada peserta didik yang mempunyai kelainan untuk belajar bersama peserta didik yang normal.
Solusi lain yang ditawarkan adalah, peningkatan akses pendidikan melalui pembukaan kesempatan bagi pihak swasta dalam mendirikan lembaga pendidikan tinggi baru. Namun, strategi ini harus dikaitkan dengan kualitas dalam rangka peningkatan daya saing bangsa. Dalam pengendaliannya perlu dibuat persyaratann yang ketat dalam mengijinkan partisipasi swasta ini. Untuk itu, pemerintah harus membenahi peraturan dan perundang-undangan serta memperkuat kapasitas kelembagaan yang terkait dengan fungsi pengendalian dan penjaminan kualitas. Kebijakan perluasan pendidikan tinggi ini juga diarahkan dalam upaya membuka kesempatan bagi calon mahasiswa yang berasal dari penduduk di atas usia ideal pendidikan tinggi (lebih dari 24 tahun) seperti karyawan, guru, tenaga spesialis industri, dan mencakup perluasan pendidikan non-gelar serta pendidikan profesi yang mengutamakan penguasaan pengetahuan, ketrampilam dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja industri.
Untuk menjangkau populasi yang lebih luas namun terkendala oleh berbagai faktor, seperti letak geografis dan waktu, perluasan akses pendidikan tinggi juga dilakukan melalui pengembangan kapasitas pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi komunikasi. Kemungkinan penggunaan modus pembelajaran jarak jauh ini bukan hanya oleh universitas terbuka tetapi juga oleh perguruan tinggi lain yang diberi izin dalam pengimplementasian strategi ini.

4.3.2. Mengatasi Permasalahan Kualitas dan Relevansi
Dalam mengatasi permasalahan kualitas dan relevansi pendidikan nasional setidaknya ada delapan strategi yang dapat dilakukan yaitu :
1. Mengimplementasikan penerapan standar nasional pendidikan yang telah dikembangkan berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. Standar tersebut digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan akreditasi lembaga-lembaga pendidikan dan berbagai program keahlian serta program studi yang dilakukan oleh BAN S/M dan BAN PT, dan untuk penilainan program dan pendidikan, peningkatan kapasitas pengelolaan pendidikan, peningkatan sumber daya pendidikan, upaya penjaminan kualitas pendidikan.
2. Diterapkannya system penilaian pendidikan untuk UN dan UAS oleh sebuah badan mandiri yang ditugasi untuk melaksanakannya. UN mengukur pencapaian kompetensi peserta didik berdasarkan standar kompetensi lulusan yang ditetapkan secara nasional sebagai benchmark. Hasil UN bukan satu-satunya alat untuk menentukan kelulusan siswa tetapi terutama sebagai sarana untuk melakukan pemetaan dan analisis kualitas pendidikan yang dimulai dari tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi sampai tingkat nasional.
3. Adanya penjaminan kualitas melalui suatu proses analisis yang sistematis terhadap hasil UN dan hasil evaluasi lainnya untuk menentukan faktor pengungkit dalam upaya peningkatan kualitas, baik antar satuan pendidikan, antar kabupaten/kota, antar provinsi, atau melalui pengelompokan lainnya. Analisis dilakukan oleh pemerintah bersama pemerintah provinsi yang secara teknis dibantu oleh lembaga penjaminan kualitas pendidikan (LPMP) pada masing-masing wilayah. Hasil analisis tersbut, diberikan intervensi terhadap atuan dan program pendidikan diantaranya melalui pendidikan dan pelatihan terutama pengembangan proses pembelajaran efektif, bantuan teknis, pengadaan dan pemanfaatan sumber daya pendidikan, serta pemanfaatan TIK dalam pendidikan. Disamping itu, untuk mempercepat tercapainya pemerataan kualitas pendidikan dilakukan pemberian bantuan yang diarahkan pada satuan pendidikan yang belum mencapai standar nasional.
4. Perlunya dilakukan tindakan afirmatif dengan memberikan perhatian lebih besar pada satuan pendidikan yang kualitasnya masih rendah baik dari input, proses, maupun outputnya.
5. Dilaksanakan akreditasi satuan dam program pendidikan untuk menentukan tingkat kelayakan masing-masing. Hasil akreditasi dijadikan landasan untuk melakukan progam pengembangan kapasitas dan peningkatan kualitas tiap satuann atau program pendidikan.
6. Perlunya dilakukan pengembangan dan peningkatan profesionalisme guru. Sebagai tenaga kerja profesional guru ataupun tenaga kependidikan harus memiliki sertifikat profesi setelah menempuh pendidikan profesi dan berdasarkan hasil uji kompetensi, sebagai imbalannya mereka diberi tunjangan profesi. Standar profesi guru dikembangkan sebagai dasar bagi penilaian kinerja guru yang dilakukan secara berkelanjutan atas dasar kinerjanya baik pada tingkat kelas maupun satuan pendidikan.
7. Dalam rangka meningkatkan relevansi pendidikan diperlukan pengembangan kurikulum yang relevan dengan pangsa pasar/dunia kerja. Investasi juga dilakukan untuk pengembangan satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah, non-formal dan pendidikan tinggi.
8. Dalam rangka mengejar keunggulan dan daya saing perlu dikembangkan sejumlah sekolah/madrasah dan perguruan tinggi yang bertaraf internasional menggunakan hasil pengukuran yang berstandar internasional dan menggunakan benchmark institusi pendidiakn unggul di dunia. Tentunya ini memerlukan kesiapan baik sarana dan prasarana yang mendukung. Dalam rangka mendorong keunggulan juga perlu dikembangkan peningkatan jumlah dan kualitas publikasi ilmiah dan hak atas kekayaan intelektual. Kegiatan ini terutama berkaitan dengan peran perguruan tinggi yang memiliki otonomi keilmuan dengan melakukan penelitian dan pengembangan untuk kepentingan pengembangan sains dan teknologi.

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Pendidikan sebagai human invesment merupakan indikator kualitas sumberdaya manusia. Kualitas sumber daya manusia yang baik sangat diperlukan dalam menghadapi persaingan global yang terjadi seperti sekarang. Pendidikan merupakan hal yang pertama dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun pada kenyataannya, pendidikan Indonesia sekarang ini menunjukkan kualitas yang rendah. Kualitas rendah secara garis besar disebabkan oleh dua masalah yaitu, akses pendidikan yang kurang merata karena terdapat persyaratan tertentu dan karena adanya kesenjangan ekonomi, serta buruknya kualitas dan relevansi pendidikan seperti rendahnya standar kelulusan dan fungsi pengawasan terhadap pendidikan di Indonesia. Masalah-masalah ini membutuhkan pemecahan segera agar pembangunan dapat berjalan secara terarah dan mencapai tujuan yang diinginkan. Peran serta pemerintah adalah faktor yang paling berpengaruh dalam pemecahan masalah ini. Pemerintah dapat menciptakan kebijakan-kebijakan dan strategi tertentu yang memungkinkan peningkatan mutu pendidikan dengan membuka akses yang sama serta peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan nasional. Kebijakan yang dirumuskan pemerintah tersebut pada akhirnya akan menjadi pedoman setiap aktor dalam pendidikan pada khususnya, dan setiap warga negara pada umumnya, dalam melaksanakan proses pendidikan nasional agar mencapai tujuan Pembangunan Nasional.

5.2. Saran
Berdasarkan uraian dalam tulisan, penulis memberikan saran atau rekomendasi untuk menyempurnakan penulisan dari makalah ini yaitu :
1. Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mempertajam hasil penulisan dari makalah ini dan guna menjawab beberapa pertanyaan atau permasalahan yang muncul ketika penulisan makalah ini berlangsung.
2. Penulis menyarankan tindakan operasional untuk menyelesaikan masalah pembangunan nasional sebagai civitas akdemik yaitu, peduli terhadap pendidikan mulai dari diri pribadi dengan menuntut ilmu dengan serius, sebagai tanda keseriusan untuk memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia dan mencapai tujuan Pembangunan Nasional.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Mohammad. 2009. Pendidikan untuk Pembangunan Nasional. Bandung: PT Imperial Bhakti Utama.
Badan Pusat Statistik. 2003. Survey Sosial Ekonomi Nasional tentang Angka Melek Aksara 2003. Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik. 2006. Human Development Index 2006-2007. Jakarta: BPS.
Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama. 2006. Grand Design Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun 2006-2009. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama RI.
Departemen Pendidikan Nasional. 2005.Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
UNESCO. 2000. Human Development Index. Education for Sustainable Development (ED/UNP/ESD), www.unesco.org/education/desd.

LAMPIRAN
Tebel 1. Angka Melek Huruf Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas Menurut Provinsi dan Kab/kota
Provinsi 2003 2004 2005
Province Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total

Male Female Total Male Female Total Male Female Total
11. Nanggroe Aceh Darussalam 97.97 94.66 96.28 97.77 93.73 95.69 na na na
12. Sumatera Utara 98.32 95.32 96.80 98.30 95.03 96.64 97.87 94.95 96.39
13. Sumatera Barat 97.41 93.96 95.60 97.75 93.90 95.73 97.46 94.63 95.98
14. Riau 97.55 94.61 96.10 97.34 95.46 96.41 98.58 96.91 97.76
15. Jambi 97.69 92.62 95.17 97.88 93.58 95.76 97.05 92.03 94.54
16. Sumatera Selatan 97.25 93.13 95.19 97.37 94.00 95.69 97.36 93.92 95.63
17. Bengkulu 96.18 90.93 93.59 96.96 91.33 94.21 96.26 90.61 93.47
18. Lampung 94.62 88.45 91.65 95.85 90.06 93.08 95.63 89.92 92.85
19. Kep. Bangka Belitung 94.54 88.46 91.48 96.15 90.74 93.51 97.12 93.66 95.44
20. Kepulauan Riau na na na Na na na 97.63 94.26 95.97
31. DKI Jakarta 99.10 97.73 98.41 99.18 97.45 98.31 99.31 97.35 98.32
32. Jawa Barat 96.34 91.27 93.83 96.50 91.39 93.96 96.93 92.33 94.65
33. Jawa Tengah 91.29 80.47 85.79 92.10 81.49 86.72 92.34 82.64 87.41
34. DI Yogyakarta 91.34 80.37 85.75 91.92 79.90 85.78 92.53 81.20 86.72
35. Jawa Timur 89.37 77.64 83.37 90.50 78.89 84.54 91.47 80.51 85.84
36. Banten 96.41 91.15 93.78 96.55 91.39 93.98 97.54 93.70 95.63
51. Bali 90.30 78.61 84.44 91.58 79.44 85.52 92.50 79.91 86.22
52. Nusa Tenggara Barat 82.44 68.59 75.11 83.73 70.99 76.85 85.62 72.74 78.79
53. Nusa Tenggara Timur 87.54 82.43 84.93 88.01 82.50 85.16 87.36 82.65 84.95
61. Kalimantan Barat 92.39 82.48 87.57 93.15 82.91 88.18 92.43 82.63 87.66
62. Kalimantan Tengah 97.54 94.67 96.16 97.49 94.88 96.23 98.60 96.35 97.50
63. Kalimantan Selatan 96.47 90.71 93.53 97.20 92.40 94.76 97.19 91.76 94.47
64. Kalimantan Timur 96.96 92.56 94.86 96.89 92.86 94.97 96.93 93.55 95.31
71. Sulawesi Utara 99.00 98.90 98.95 99.28 99.01 99.15 99.08 98.65 98.87
72. Sulawesi Tengah 95.59 91.56 93.63 95.78 92.98 94.41 95.53 92.26 93.93
73. Sulawesi Selatan 86.26 80.77 83.40 87.52 81.71 84.49 87.28 82.20 84.60
74. Sulawesi Tenggara 93.59 87.44 90.47 94.19 87.46 90.73 93.55 86.61 89.99
75. Gorontalo 94.81 94.60 94.70 93.93 95.34 94.66 94.93 95.13 95.03
81. Maluku 97.96 96.13 97.04 98.66 96.94 97.78 97.17 95.17 96.16
82. Maluku Utara 96.91 94.20 95.54 97.73 92.58 95.16 97.15 93.19 95.18
94. Papua 79.70 68.95 74.46 79.50 68.48 74.22 76.64 66.23 71.58
Sumber/Source: SUSENAS 2003, 2004, 2005

STRATEGI PENYIAR DALAM MENCIPTAKAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI MASSA

Disusun oleh :
Rizki Mila Amalia / I34080070

Asisten dosen :
Rizal Razak, S.P.

DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI i
BAB I 1
PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.3 Tujuan Penulisan 2
1.4 Kegunaan Penulisan 2
BAB II 1
PEMBAHASAN 1
2.1 Kendala dalam Menyampaikan Pesan 1
2.2 Strategi Penyiar untuk Mengatasi Kendala dan Menciptakan Efektifitas Komunikasi 2
BAB III 1
KERANGKA PEMIKIRAN 1
BAB IV 1
PENUTUP 1
3.1 Kesimpulan 1
3.2 Saran 1
DAFTAR PUSTAKA 1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Televisi dan radio sebagai media komunikasi massa memiliki beberapa kelebihan dibanding media lainnya. “Salah satu kelebihan medium radio dibanding dengan media lainnya, ialah cepat dan mudah dibawa ke mana-mana.” (Hafied Cagara, 1994) . Namun selain radio, dewasa ini televisi boleh dikatakan telah mendominasi hampir semua waktu luang setiap orang. Dari hasil penelitian yang pernah dilakukan pada masyarakat Amerika, ditemukan bahwa hampir setiap orang di benua itu menghabiskan waktunya antara enam sampai tujuh jam per minggu untuk menonton televisi. Waktu yang paling tinggi terserap pada musim dingin. Perhatian yang besar terhadap televisi disebabkan televisi memiliki sejumlah kelebihan, terutama kemampuannya dalam menyatukan antara fungsi audio dan visual, ditambah dengan kemampuan memainkan warna. Televisi serta radio juga mampu mengatasi kendala jarak dan waktu. Kelebihan kedua media tersebut menyebabkan perkembangan stasiun radio dan televisi yang sangat pesat terjadi di seluruh belahan dunia.
Perkembangan pesat yang terjadi pada radio dan televisi dipengaruhi oleh banyak orang, satu diantaranya adalah penyiar. Perkembangan tersebut meningkatkan persaingan antara stasiun-stasiun radio dan televisi. Penyiar merupakan orang yang berkontribusi besar dalam penyajian suatu pesan pada acara radio dan televisi. Fungsi audio yang dimiliki radio dan fungsi audiovisual yang dimiliki televisi memungkinkan untuk sebuah acara dipandu oleh penyiar. Penyiar dipadukan dengan fungsi audio serta visual akan membuat acara terlihat lebih hihup dan interaktif. Penyiar juga memiliki andil yang cukup besar untuk menarik minat khalayak.
Banyak orang berpendapat bahwa penyiar adalah personalitas stasiun penyiaran yang diwakilinya. Kemampuan atau kegagalannya dapat mempengaruhi citra khalayak terhadap stasiun di mana ia bertugas. Mungkin hal ini agak dilebih-lebihkan, tetapi jelas mengandung kebenaran. TV NBC di Amerika Serikat berani mengontrak Barbara Walters sebesar AS$ 5 juta untuk lima tahun, karena dianggapnya mampu menaikkan citra NBC, baik melalui materi acara maupun karena penampilannya (Soewardi Idris, 1994) .
Penyiar harus dapat menyampaikan pesan secara efektif. Acara yang pesannya dapat dikomunikasikan secara efektif akan menarik lebih banyak penonton dan secara langsung dapat menguntungkan stasiun yang menyajikan acara yang dibawakan oleh penyiar tersebut. Efektivitas komunikasi terjadi terjadi jika tujuan komunikasi sudah tercapai, yaitu adanya kesamaan makna pesan antara sumber dan penerima. Efektivitas komunikasi dipengaruhi oleh faktor-faktor yang terdapat pada sumber, pesan, saluran, dan penerima. Penyiar sebagai sumber membutuhkan pemahaman tentang faktor-faktor tersebut, terutama dari segi sumber. Pemahaman mengenai faktor-faktor tersebut tidak cukup. Efektifitas komunikasi massa tidak mudah dicapai. Ada kendala-kendala yang menyebabkan suatu komunikasi massa tidak berjalan secara efektif. Kontribusi yang besar dalam penyajian suatu pesan serta persaingan acara pada stasiun radio dan televisi, menuntut seorang penyiar mengatasi kendala yang dihadapinya dalam mencapai komunikasi yang efektif dengan menemukan strategi untuk mencapai efektivitas pada komunikasi yang dilakukannya.
1.2 Perumusan Masalah
1. Hal apa saja yang menjadi kendala bagi penyiar untuk mencapai efektivitas komunikasi yang dilakukannya?
2. Srtategi apa yang digunakan untuk menangani kendala tersebut sehingga menciptakan komunikasi yang efektif?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan perumusan masalah yang dipaparkan di atas makan tujuan tulisan ini adalah untuk menganalisis:
1. Kendala yang dihadapi penyiar dalam menyampaikan pesan.
2. Strategi komunikasi yang dilakukan penyiar agar tercapai komunikasi yang efektif.

1.4 Kegunaan Penulisan
Melalui tulisan ini, diharapkan dapat memberi kegunaan bagi berbagai pihak, yaitu:
1. Bagi kalangan akademis, sebagai bahan rujukan mengenai studi penyiaran radio dan televisi, serta menjadi bahan kajian lebih lanjut mengenai topik yang sama.
2. Bagi para penyiar acara radio dan televisi, sebagai bahan pertimbangan untuk memperdalam pemahaman mengenai profesi dan strategi komunikasi agar tercapai komunikasi yang efektif.
3. Bagi pemerintah, sebagai bahan pertimbangan untuk memilih penyiar untuk radio dan televisi milik pemerintah agar pesan dari pemerintah disampaikan dengan baik dan mendapat perhatian penuh dari masyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kendala dalam Menyampaikan Pesan
Penyiar merupakan profesi yang menuntut seseorang untuk tampil dan berbicara di depan orang banyak. Berbicara di hadapan orang banyak bukan merupakan hal yang mudah. Masalah yang membuat berbicara di depan orang banyak menjadi sulit dilakukan adalah kekhawatiran pembicara atau sering disebut demam panggung. Beatty (1988) dalam De Vito (1997) meneliti mahasiswa dan mendapati bahwa ada lima faktor yang mempengaruhi kecemasan seseorang dalam berbicara di depan umum , yaitu :
1. Hal Baru
Situasi yang sifatnya baru dan berbeda membuat kita menjadi gelisah.
2. Status Rendah
Jika anda merasa bahwa orang lain merupakan pembicara yang lebih baik, maka kegelisahan anda akan meningkat.
3. Kesadaran
Jika anda merasa menjadi pusat perhatian, seperti yang anda alami jika berbicara di depan umum, maka kegelisahan akan meningkat.
4. Perbedaan
Jika anda merasa khalayak yang anda hadapi memiliki sedikit persamaan dengan anda, maka kegelisahan anda akan meningkat.
5. Pengalaman yang Lalu
Jika anda pernah mempunyai pengalaman demam panggung, maka ada kecenderungan timbul kegelisahan yang meningkat jika harus berbicara di depan umum.
Selain lima faktor yang dikemukakan oleh Beatty (1988) tersebut, masih ada faktor yang meningkatkan kecemasan seorang pembicara menurut Larry King . Larry King (1994) menyatakan, faktor tersebut adalah kurang latihan . Kurang latihan menyebabkan penyiar memiliki persiapan yang tidak matang untuk berbicara di depan khalayak. Semua faktor yang dapat menyebabkan demam panggung dapat menimbulkan rasa malu. Rasa malu yang dimiliki penyiar akan membuat penyiar kesulitan untuk memulai pembicaraan. Hal itu sangat buruk bagi seorang penyiar.

2.2 Strategi Penyiar untuk Mengatasi Kendala dan Menciptakan Efektifitas Komunikasi
Kendala yang dihadapi berupa demam panggung dapat menjadi noise pada komunikasi yang dilakukan penyiar dengan khalayak. Kendala tersebut harus diatasi agar komunikasi berjalan secara efektif. Beatty (1988) dalam De Vito (1997) tidak hanya mengemukakan faktor yang meningkatkan kecemasan pembicara, tetapi juga mengemukakan bahwa dengan memahami kelima faktor tesebut, seorang pembicara dapat mengendalikan kegelisahan dalam berbicara di depan umum. Cara mengatasi demam panggung berdasarkan faktor yang dikemukakan Beatty (1988) dalam De Vito (1997) akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Hal Baru
Situasi baru yang dapat meningkatkan kecemasan pembicara dapat berkurang jika pembicara sudah beberapa kali menghadapi keadaan yang sama.
2. Status Rendah
Kegelisahan yang disebabkan perasaan bahwa orang lain lebih baik dapat dikurangi dengan berpikir positif mengenai diri sendiri.
3. Kesadaran
Kesadaran menjadi pusat perhatian yang meningkatkan kegelisahan dapat diatasi dengan menganggap bahwa berbicara di depan khalayak sebagai layaknya orang ngobrol saja. Jika anda dengan bebas dapat berbicara di kelompok kecil, maka anggap saja bahwa khalayak yang sedang dihadapi adalah kelompok kecil yang “diperbesar”.
4. Perbedaan
Demam panggung karena rasa memiliki banyak perbedaan dengan khalayak dapat ditanggulangi dengan menekankan persamaan yang dimiliki pembicara dengan khalayak ketika merencanakan pembicaraan, termasuk juga ketika berbicara di hadapan khalayak.
5. Pengalaman yang Lalu
Pengalaman demam panggung yang meningkatkan kecemasan pembicara di depan umum dapat dikurangi dengan pengalaman positif yang didapatkan saat berbicara di depan umum.
Cara tersebut merupakan cara yang dianjurkan oleh Beatty (1988), sedangkan cara yang dianjurkan oleh Larry King (1994) untuk mengatasi kendala-kendala tersebut memilik sedikit perbedaan. Situsasi baru yang menjadi kendala dalam berbicara, menurut Larry King dapat diatasi dengan cara selalu berlatih berbicara dengan buku petunjuk, video tentang cara berbicara, atau cara yang lazim dilakukan adalah berbicara di depan kaca dan dengan hewan peliharaan. Selain itu, seorang penyiar juga harus memanfaatkan semua peluang yang ada untuk menyiarkan acara sesering mungkin . Demam panggung karena merasa tidak yakin pada kemampuan diri sendiri dan merasa kemampuan orang lain lebih baik serta merasa memiliki banyak perbedaan dengan khalayak, dapat diatasi dengan mengingat bahwa kita semua adalah manusia. Setiap manusia banyak memiliki keahlian dalam bidangnya masing-masing, tetapi tetap saja manusia. Ingatlah bahwa hampir semua manusia memulai dengan cara yang sama dan mungkin berada pada kondisi yang sama, karena itu tidak perlu merasa rendah dan teintimidasi . Kecemasan karena merasa menjadi pusat perhatian dapat diatasi dengan cara memulai pembicaraan dan berkata jujur mengenai kecemasan yang dihadapi, dengan begitu perasaan menjadi lebih lega, khalayak pun mengerti kondisi pembicara dan mengetahui bahwa pembicara sudah tampil semaksimal mungkin . Pengalaman yang lalu mengenai demam panggung juga bisa diatasi. Caranya, selain dengan mengingat hal positif dari pengalaman yang lalu, penyiar juga harus belajar dari kegagalan dan membentuk sikap berupa kemauan untuk memiliki kemampuan yang lebih sebagai pembicara . Kegagalan yang pernah dialami Larry King menjadi pembelajaran yang baik bagi dirinya dan sejak saat itu Larry King membuat komitmen bagi dirinya sendiri bahwa ia akan tetap bicara dan ia akan meningkatkan kemampuan bicaranya dengan latihan yang serius. Secara singkat perbandingan penyelesaian terhadap kendala yang dikemukakan oleh Beatty (1988) dan Larry King (1994) dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

2.1.1 Tabel Perbandingan Penyelesaian Kendala yang Dihadapi Penyiar
Kendala Penyelesaian
Menurut Beatty (1988) Menurut Larry King (1994)
Hal Baru Beberapakali menghadapi situasi baru tersebut Berlatih dan selalu mengambil kesempatan mengudara
Status Rendah Berpikiran Positif Mengingat bahwa semua manusia itu sama
Kesadaran Menganggap berbicara di depan khalayak layaknya ngobrol biasa Kejujuran tentang situasi yang dialami
Perbedaan Menekankan persamaan dengan khalayak Meningat bahwa semua manusia itu sama
Pengalaman yang Lalu Pengalaman positif Belajar dari kegagalan dan membentuk komitmen

Cara untuk mengatasi kendala yang dianjurkan oleh keduanya dapat dipadukan untuk menciptakan komunikasi yang lebih efektif.
Efektivitas dalam komunikasi akan terjadi bila sumber dan penerima memiliki kesamaan makna tentang pesan yang mereka pertukarkan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keefektifan dalam berkomunikasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan komunikasi tersebut, masing-masing dapat ditinjau dari sumber, penerima, pesan dan saluran. Penyiar sebagai sumber dalam acara TV dan radio sangat penting menguasai faktor-faktor tersebut agar komunikasi yang mereka lakukan dengan khalayak berjalan lancar dan efektif.
Berlo (1960) mengemukakan empat faktor yang terdapat pada sumber yang dapat meningkatkan keekftifan dalam berkomunikasi , yaitu:
1. Keterampilan Berkomunikasi
Keterampilan berkomunikasi merupakan salah satu faktor yang melekat pada sumber. Dalam komunikasi verbal seperti yang dilakukan oleh penyiar, diperlukan keterampilan berbicara dan menulis (encoding skill) , mendengar dan membaca (decoding skill) , dan berpikir serta menalar (encoding and decoding skill). Kemampuan berpikir selain penting dalam mengkode pesan juga penting dalam menetapkan tujuan komunikasi itu sendiri.
2. Sikap Mental
Sikap mental terhadap diri sendiri, materi atau isi komunikasi, serta penerima merupakan faktor yang berikutnya. Sikap terhadap diri sendiri mempengaruhi cara berkomunikasi. Rasa percaya diri dalam variabel kepribadian membentuk sikap saat berkomunikasi. Sikap tehadap materi atau isi komunikasi misalnya suka atau tidak suka terhadap materi atau pesan yang akan dikemukakan, keyakinan diri bahwa materi yang dikemukakan berguna atau tidak, dan lain-lain. Hal ini akan mempengaruhi efektivitas komunikasi yang dilakukan sumber. Sikap sumber terhadap penerima dapat negatif atau positif, dimana hal ini akan berpengaruh terhadap pesan yang disampaikan sumber dan bagaimana orang akan merespon pesan tersebut.
3. Tingkat Pengetahuan
Tingkat pengetahuan meliputi sumber mengenai meteri atau isi komunikasi, ciri-ciri penerima, dan lain-lain. Pengetahuan tentang materi sangat menentukan ketepatan komunikasi. Seseorang yang tidak mengusai materi tidak dapat berkomunikasi secara baik, selain itu penguasaan meteri juga harus didukung oleh kemampuan menyampaikan dalam bentuk pesan yang mudah dimengerti. Dalam hal ini, sama pentingnya antara pengetahuan materi dengan pengetahuan tentang cara-cara atau teknik berkomunikasi.
4. Posisi di dalam Sistem Sosial Budaya
Posisi di dalam sistem sosial budaya mempengaruhi ketepatan komunikasi. Kita perlu mengetahui konteks budaya, karena orang yang berasal dari strata atau kelas yang berbeda akan berkomunikasi dengan cara yang berbeda. Posisi dalam sistem sosial budaya akan menentukan antara lain: pilihan kata-kata, siapa penerimanya, saluran dan jenis pesan apa yang akan dikomunikasikan.
Selain harus mengetahui cara-cara mengatasi kendala berupa demam panggung serta faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan komunikasi ditinjau dari sumber, seorang penyiar juga harus mengetahui beberapa syarat lain yang dibutuhkan sebelum seseorang memulai kariernya sebagai penyiar. Soewardi Idris(1994) mengemukakan, idealnya, seorang penyiar haruslah memenuhi empat syarat sebelum terjun ke lapangan , yaitu:
1. Memiliki pengetahuan umum dan pengetahuan profesi yang cukup luas.
2. Mampu menulis dengan baik.
3. Mampu mengorganisasikan tugas-tugasnya dengan baik.
4. Mampu membawakan acaranya dengan baik.
Syarat pertama memulai karier sebagai penyiar sangat erat kaitannya dengan faktor tingkat pengetahuan sebagai faktor yang mempengaruhi keefektifan komunikasi. Pengetahuan umum yang luas akan sangat menunjang karier sebagai seorang penyiar. Dalam perjalanan karier seorang penyiar, sangat mungkin mereka menemui berbagai masalah tantang sesuatu yang berada di luar disiplin ilmu yang pernah mereka pelajari di perguruan tinggi . Jika seorang penyiar memiliki pengetahuan umum yang luas, materi dan masalah apa pun yang mereka siarkan akan mudah dikuasai. Penguasaan materi yang baik akan membantu penyiar dalam menyampaikan materi atau masalah yang disiarkannya dengan jelas. Akhirnya pesan yang disampaikan oleh penyiar dapat disampaikan dengan baik, dan khalayak yang menyaksikan acara tersebut dapat dengan mudah menyerap makna yang disampaikan penyiar. Pengetahuan tentang profesi juga dibutuhkan agar para penyiar menjadi ahli dalam bidangnya.
Syarat kedua yang harus dipenuhi seorang penyiar ialah kemampuan menulis dengan baik (clear writing). Syarat ini berkaitan dengan faktor keterampilan komunikasi. Cikal bakal jurnalistik lisan ialah jurnalistik cetak . Karena itu penyiar tidak hanya harus memiliki kemampuan berbicara yang baik, tetapi penyiar juga harus memiliki kemampuan menulis. Kemampuan berbicara dan menulis yang baik akan tercipta setelah penyiar mempunyai kemampuan berbahasa yang baik pula. Kemampuan berbahasa yang baik dapat membuat khalayak menikmati acara dan menyimak pesan yang disampaikan penyiar. Jika penyiar memiliki kemampuan berbahasa yang kacau, khalayak tidak dapat menikmati acara bahkan mengerti pesan yang disampaikan oleh penyiar.
Kemampuan mengorganisasikan tugas-tugas dengan baik sebagai syarat ketiga, tidak terlepas dari sikap mental yang dimiliki penyiar, terutama sikap mental terhadap diri sendiri. Sikap mental terhadap diri sendiri akan membentuk rasa percaya diri yang akan mempengaruhi cara berkomunikasai penyiar. Percaya diri akan membentuk rasa percaya pada kemampuan diri sendiri untuk mengorganisasikan diri sendiri dan tugas-tugas yang diberikan. Sikap mental yang dimiliki penyiar pun akan mempengaruhi kemampuan penyiar dalam menjalin kerja sama dengan orang-orang yang terlibat dalam produksi acaranya. Acara yang baik akan sulit diciptakan jika penyiar tidak memiliki sikap mental yang baik terhadap dirinya dan lingkungannya, serta tidak bisa menjadi manajer yang baik untuk diri sendiri dan tugas-tugasnya.
Syarat yang keempat adalah seorang penyiar harus mampu membawakan acaranya dengan baik. Syarat ini berkaitan dengan empat faktor yang mempengaruhi keefektifan komunikasi ditinjau dari sumber, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Untuk menjadi seorang penyiar yang baik, seorang juga harus mengetahui kondisi khalayak yang menyaksikan atau mendengar acaranya. Kondisi khalayak tersebut ditinjau dari konteks budaya, yaitu posisi sosial seseorang. Orang yang memiliki posisi sosial yang berbeda dalam masyarakat akan memiliki cara komunikasi yang berbeda. Dengan mengetahui posisi sosial sasaran yang dituju acara yang dibawakannya, seorang penyiar dapat menentukan cara berkomunikasi serta pilihan kata yang tepat sehingga khalayak dapat mencerna dengan mudah makna dari pesan yang disampaikan penyiar. Soewardi Idris(1994) menyatakan syarat keempat ini menuntut seorang penyiar untuk memiliki suara yang enak dan penampilan yang sedap dipandang. Kedua hal itu membantu penonton menikmati acara yang disajikan .
Larry King (1994) menyebutkan ciri-ciri pembicara terbaik, dan hal tersebut dapat digunakan sebagai strategi untuk mencapai efektivitas komunikasi. King (1994) mencatat beberapa persamaan yang dimiliki oleh para konversasionalis terbaik yang pernah diajaknya bicara, baik di dalam atau di luar siaran . Beberapa ciri tersebut, yaitu:
1. Mereka memandang suatu hal dari sudut pandang yang baru, mengambil titik pandang yang tak terduga pada hal-hal yang umum. Hal ini dapat digunakan untuk menghidupkan percakapan yang sudah akrab bagi khalayak.
2. Mereka mempunyai cakrawala luas. Mereka memikirkan dan membicarakan isu-isu dan beragam pengalaman di luar kehidupan mereka sehari-hari. Memperluas cakrawala tidak harus dengan berpergian. Mendengarkan merupakan cara lain untuk memperluas cakrawala tanpa harus pergi ke mana pun.
3. Mereka antusias, menunjukkan minat besar pada apa yang mereka perbuat dalam kehidupan mereka, maupun pada apa yang orang lain katakan pada kesempatan itu. Mereka mempunyai antusias yang besar terhadap pekerjaan mereka, dan mereka mengkomunikasikannya dalam percakapan mereka. Antusiasme itu dan kesediaan mereka untuk berbagi pengalaman, jelas membuat mereka sukses sebagai pembicara.
4. Mereka tidak pernah membicarakan diri mereka sendiri. Untuk mempertahankan percakapan, jelas seorang pembicara harus menceritakan tentang dirinya kepada teman bicara atau khalayak, dan menjawab yang mereka tanyakan, tetapi jangan terlalu panjang. Sebaliknya, balikan percakapan.
5. Mereka sangat ingin tahu. Mereka bertanya “Mengapa?” Mereka ingin tahu lebih banyak tentang apa yang orang lain katakan. Itulah sebabnya mereka pandai mendengarkan dan mempunyai cakrawala yang luas.
6. Mereka menunjukkan empati. Mereka berusaha menempatkan diri mereka pada posisi orang lain untuk memahami apa yang orang lain katakan. Orang yang paling enak diajak bicara adalah mereka yang menunjukkan empati kepada orang yang diajak bicara. Mereka menunjukkan dengan jelas bahwa mereka mencoba memahami apa yang kita rasakan dan kita katakan. Seorang pembicara tentu ingin dihargai oleh orang yang diajak bicara atau khalayak, maka hargailah orang yang diajak bicara agar mereka menghargai pembicara.
7. Mereka mempunyai selera humor, dan tidak keberatan mengolok-olok diri sendiri. Sungguh, konversasionalis terbaik sering mengisahkan pengalaman konyol mereka sendiri.
8. Mereka punya gaya bicara sendiri. Unsur kunci lain pada pembicara yang sukses adalah gaya. Mereka mempunyai gaya sendiri, sehingga ucapan mereka efektif. Berbicara pelan, berbicara yang suka memainkan emosi, berbicara yang berapi-api dan garang, serta berbicara yang membangun logika merupakan beberapa contoh dari gaya bicara. Setiap orang mempunyai gayanya sendiri, karena itu seorang pembicara harus mencari cara berbicara yang cocok dan mengembangkannya.
Empat syarat yang harus dimiliki seorang penyiar, empat faktor yang mempengaruhi keefektifan komunikasi, serta strategi saling berkaitan untuk menciptakan komunikasi yang efektif antara penyiar dan khalayak. Khalayak akan lebih mudah mengerti acara yang dipandu oleh penyiar jika komunikasi berlangsung dengan efektif. Penyiar yang menguasai syarat, faktor, dan strategi diatas akan membantu khalayak menikmati acara yang disajikan dan akan sanggup menyentuh perhatian khalayak. Perhatian khalayak yang besar terhadap suatu acara merupakan indikator dari keberhasilan suatu acara. Perhatian yang besar dari khalayak tersebut akan sangat menguntungkan pihak stasiun televisi yang menyiarkannya dan menaikan reputasi penyiar yang memandu acara tersebut.

BAB III
KERANGKA PEMIKIRAN

Keterangan:
Mempengaruhi
(+) Meningkatkan efektivitas
(-) Menurunkan Efektivitas

BAB IV
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penyiar adalah orang yang sangat berpengaruh pada keberhasilan sebuah acara. Sebuah acara akan berhasil jika penyiar dapat menciptakan efektivitas komuunikasi antara dirinya dengan khalayak. Tidak mudah menciptakan efektivitas komunikasi, karena terdapat kendala yang umumnya dialami seorang pembicara seperti penyiar, yaitu demam panggung. Demam panggung meningkat karena beberapa faktor. Dengan memahami faktor-faktor tersebut, penyiar dapat mengendalikan kegelisahannya dalam berbicara. Selain itu, penyiar pun harus mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas dan syarat serta strategi lain yang seharusnya dimiliki seorang penyiar untuk menjadi profesional dalam bidangnya. Penyiar akan mampu menciptakan efektivitas komunikasi dengan mudah jika dapat mengendalikan kecemasan dalam dirinya, memahami faktor efektifitas , serta menguasai syarat dan strategi yang seharusnya dimiliki seorang penyiar. Tercapainya efektivitas tersebut akan menarik perhatian yang besar dari khalayak pada acara yang dipandu oleh penyiar. Hal itu merupakan kesuksesan bagi acar, penyiar dan stasiun yang menyiarkan aacara tersebut.
3.2 Saran
Saran yang dapat disampaikan penulis, yaitu:
1. Penyiar sebaiknya lebih memperdalam pengetahuan mengenai profesinya, agar terjadi efektifitas dalam komunikasnya dengan khalayak dan acara yang dipandunya mendapat perhatian khalayak.
2. Stasiun TV dan radio baik swasta atau pun pemerintah harus memilih penyiar yang memenuhi syarat dan dapat menarik perhatian khalalayak

DAFTAR PUSTAKA
Berlo, D. 1960. The Process of Communication. An Introduction to Theory and Practice. New York: Holt, Rinehart, and Winston, Inc.
Cagara, Hafied. 2009. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers.
De Vito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Maulana Agus, penerjemah. Jakarta: Profesional Books. Terjemahan dari Human Communication.
Idris, Soewardi. 1994. Bahasa Indonesia untuk Penyiar, Pembawa Acara, Beritawan TV, dan Peminat Umum. Jakarta: Rora Karya.
King, Larry. 1994. Seni Berbicara Kepada Siapa Saja, Kapan Saja, di Mana Saja. Widodo Marcus Prihminto, penerjemah. Jakarta: PT Gramedia. Terjemahan dari How to Talk to Anyone, Anytime, Anywhere by Larry King.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sosiologi pedesaan merupakan salah satu cabang sosiologi yang mempelajari dan menganalisis budaya masyarakat pedesaan secara sosiologis, yang meliputi organisasi dan stuktur, nilai-nilai dan proses-proses sosial, dan juga termasuk perubahan-perubahan sosial. Objek kajian dari studi sosiologi pedesaan adalah masyarakat desa dengan pola-pola kebudayaan yang ada di desa tersebut. Desa merupakan satuan administratif yang diatur oleh pemerintah, selain itu desa diartikan sebagai suatu sistem yang merupakan suatu kesatuan yang utuh, terbentuk secara berkesinambungan dalam kurun waktu yang relatif lama.
Seorang sosiolog terkemuka yaitu Pitirim A. Sorokin menyatakan bahwa sistem berlapis-lapis merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur, seperti yang terjadi pada desa. Hal tersebut menyebabkan stratifikasi sosial yang melekat pada desa. Stratifikasi sosial dapat dipengaruhi oleh kekuasaan dan peran yang terdapat dalam kedudukan sosial seseorang. Faktor-faktor yang menjadi ukuran atau kriteria sebagai dasar pembentukan dasar pelapisan sosial yaitu, ukuran kekayaan, ukuran kekuasaan dan wewenang, ukuran kehormatan, dan ukuran ilmu pengetahuan. Kedudukan sosial merupakan tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya yang berhubungan dengan orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya, dan hak-hak serta kewajiban-kewajibannya.
Di dalam sebuah desa biasanya terdapat orang-orang yang dihormati, berpendidikan, memiliki kekuasaan dan wewenang serta memiliki kekayaan. Hal tersebut mengindikasikan adanya lapisan-lapisan yang akan terbentuk di Desa Krekel yang biasa disebut dengan stratifikasi sosial. Lapisan yang terdapat dalam stratifikasi sosial tersebut terbagi menjadi tiga bagian yaitu lapisan atas, lapisan menengah, dan lapisan bawah. Lapisan atas umumnya terdiri dari orang-orang yang memiliki kekayaan, kekuasaan dan wewenang. Sedangkan untuk lapisan menengah terdiri dari orang-orang yang terdidik, sementara untuk lapisan bawah terdiri dari masyarakat miskin. Dari uraian tersebut kelompok kami ingin mengetahui siapa saja yang ikut membantu permasalahan yang dihadapi oleh lapisan bawah, apakah lapisan atas, lapisan menengah, pihak yang berada di luar desa ataukah lapisan bawah tersebut yang menyelesaikan masalah mereka sendiri.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana srtatifikasi sosial yang terbentuk di Desa Krekel?
2. Bagaimana dampak yang terjadi akibat adanya stratifikasi sosial di Desa Krekel?
3. Bagaimana peranan setiap lapisan dalam mengatasi masalah lapisan bawah?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui stratifikasi sosial yang terjadi di Desa Krekel.
2. Mengetahui dampak yang terjadi akibat adanya stratifikasi sosial di Desa Krekel.
3. Mengetahui peranan setiap lapisan dalam mengatasi masalah lapisan bawah.

1.4 Manfaat Penelitian
1. Memperoleh gambaran dan menambah khasanah pengetahuan tentang stratifikasi yang terjadi di desa tersebut.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi kalangan akademis untuk melakukan penelitian selanjutnya.
3. Dapat membantu pemerintah serta penyuluh untuk memperbaiki pembangunan desa tersebut.
BAB II
PENDEKATAN TEORITIS

2.1 Tinjauan Pustaka
Kata stratification berasal dari stratum (jamaknya : strata yang berarti lapisan). Social stratification adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hierarkis). Perwujudannya adalah adanya kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah. Dasar dan inti lapisan-lapisan dalam masyarakat adalah tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak-hak dan kewajiban-kewajiban, kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab nilai-nilai sosial dan pengaruhnya di antara anggota-anggota masyarakat (Sorokin (1959) dalam Soekanto (1987)).
Berbeda dengan pendapat Soekanto, Pareto dalam Kartodirjo menemukan dua strata penduduk diantaranya : pertama, lapisan yang lebih tinggi, golongan elite yang dibagi lagi kedalam dua kelompok, yaitu elite yang memerintah dan elite yang tidak memerintah. Kedua, lapisan yang lebih rendah, yang bukan elite dan mungkin berpengaruh juga dalam pemerintahan. Konsepsi Pareto ini ada hubungannya dengan karya Gaetanomosca. Mosca mengemukakan bahwa dalam suatu masyarakat senantiasa muncul dua kelas : kelas yang memerintah dan kelas yang tidak memerintah. Namun, ada pula unsur lain dalam teori Mosca yang sedikit mengubah cetusan pokok-pokok pikirannya semula. Unsur tersebut adalah munculnya suatu kelas menengah baru yang lebih besar jumlahnya
Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut : Pertama, ukuran kekayaan. Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak maka ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, barang siapa tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja
Kedua, ukuran kekuasaan dan wewenang, seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Menurut Mac. Iver dalam Soekanto (1987) terdapat tiga pola umum dari sistem lapisan-lapisan kekuasaan yaitu : Tipe Kasta adalah sistem lapisan kekuasaan dengan garis-garis pemisahan yang tegas dan kaku. Tipe senacam ini biasanya dijumpai pada masyarakat-masyarakat yang berkasta yang hampir tak terjadi gerak sosial vertikal; Tipe Oligarkis yang masih mempunyai garis-garis pemisah yang tegas, akan tetapi dasar pembedaan kelas-kelas sosial ditentukan oleh kebudayaan tersebut terutama dalam hal kesempatan yang diberikannya kepada para warga masyarakat untuk memperoleh kekuasaan-kekuasaan tertentu. Tipe semacam ini dijumpai pada masyarakat-masyarakat feodal yang telah berkembang; Tipe Demokratis menunjukkan kenyataan-kenyataan akan adanya garis-garis pemisah antara lapisan yang bersifat mobile sekali. Kelahiran tidak menentukan seseorang berkuasa akan tetapi kemampuan dan keberuntungan yang menentukan seseorang berkuasa.
Ketiga, ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.
Keempat, ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan (Soekanto, 1987).
Unsur-unsur dalam teori sosiologi yang mewujudkan tentang sistem berlapis-lapis dalam masyarakat adalah kedudukan dan peranan. Kedudukan sosial adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya yang berhubungan dengan orang-orang lain dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya, dan hak-hak serta kewajiban-kewajiban. Kedudukan sosial tidaklah semata-mata berarti kumpulan kedudukan seseorang dalam kelompok-kelompok yang berbeda, akan tetapi kedudukan sosial mempengaruhi kedudukan seseorang dalam kelompok-kelompok sosial yang berbeda (Roucek dan Warren (1962) dalam Soekanto (1987)).
Masyarakat pada umumnya mengembangkan dua macam kedudukan yaitu: Pertama, Ascribed-Status merupakan kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbdeaan-perbedaan kerohaniah dan kemampuan. Kedudukan tersebut diperoleh karena kelahiran, misalnya kedudukan anak seorang bangsawan adalah bangsawan pula. Kedua, Achieved-Status adalah kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan usaha-usaha yang disengaja. Kedudukan tidak diperoleh atas dasar kelahiran, akan tetapi bersifat terbuka bagi siapa saja, tergantung dari kemampuannya masing-masing dalam mengejar serta mencapai tujuan-tujuannya, misalnya setiap orang dapat menjadi hakim apabila memenuhi persyaratan-persyaratan yang meliputi telah menempuh beberapa pendidikan tertentu, syarat-syarat kepegawaian, dsb (Soekanto, 1987).
Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan atau status. Apabila sesorang melaksanakan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peranan. Pembedaan antara kedudukan dari peranan adalah untuk kepentingan ilmu pengetahuan, keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan, karena satu dengan yang lain saling bergantung dan tak ada peranan tanpa kedudukan atau kedudukan tanpa peranan (Soekanto, 1982). Tiga hal yang mencakup suatu peranan adalah : Pertama, peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi-posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Kedua, peranan adalah suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi. Ketiga, peranan dapat dikatakan sebagi perilaku individu yang penting bagi struktur masyarakat (Levinson (1964) dalam Soekanto (1987)).

2.2 Kerangka Pemikiran

STRUKTUR MASYARAKAT

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang kami lakukan adalah penelitian kualitatf dengan mengunakan metode wawancara terhadap orang-orang yang dianggap memilki informasi mengenai objek penelitian.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Penelitian ini berlangsung pada tanggal 18-20 Desember 2009.

3.3 Tenik Pengumpulan Data
Data yang digunakan adalah data primer dan data sekuder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan informan di RW 04 dan RW 10, yang kami temui dengan menggunakan panduan pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka mengenai teori-teori yang berkaitan dengan tema.
Wawancara yang dilakukan menggunakan panduan pertanyaan yang telah dipesiapkan sebelumnya (ada pula yang spontan). Panduan pertanyaan tersebut telah mewakili alat analisis yang kami gunakan dengan mengimplementasikan ke dalam bentuk pertanyaan yang mudah dimengerti oleh para informan.

3.4 Teknik Analisis Data
Data diperoleh dari hasil wawancara kami dengan para informan di RW 04 dan RW 10, hasil pengamatan, atau kutipan dari berbagai dokumen yang kami analisis sejak pertama kali ke lapangan sampai penelitian berakhir. Kemudian setelah data terkumpul dilakukan suatu proses pemilihan, pemusatan, serta penyederhanaan data kasar untuk dibuat kesimpulan berdasarkan sub tema yang kami angkat. Dengan proses tersebut diharapkan akan menghasilkan suatu outline laporan akhir yang dapat memudahkan peneliti untuk menyelesaikan laporan hasil penelitian secara terstruktur.

BAB IV
GAMBARAN UMUM DESA

4.1 Keterangan Umum
Desa Karehkel merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Desa ini terdiri dari 13 RW, 36 RT, dan 4 dusun dengan luas daerah ± 520 hektar. Tanah di Desa Karehkel lebih didominasi oleh tanah kering dan persawahan. Karena kondisi tanah yang kering maka wilayah di desa Karehkel lebih cocok ditanami tanaman bayam dan kangkung.
Desa ini dinamakan Desa Karehkel karena pada zaman dahulu ditemukan seekor ikan yang bernama “Kehkel” ketika orang-orang sedang memancing. Selain itu, desa ini memiliki empat Kelompok Tani, diantaranya : Mitra Tani, Sugih Tani, Barokah Tani, dan Pandan Wangi. Akan tetapi dari keempat Kelompok Tani tersebut yang masih aktif adalah Kelompok Sugih Tani.
PETA DESA KAREHKEL

Sumber: Laporan KADES Karehkel 2009
Gambar 1. Peta Desa Karehkel
Keterangan dari Peta Desa Karehkel :

Sumber: Laporan KADES Karehkel 2009
Gambar 2. Peta Dua Kampung yang Diamati (RW 4 dan RW 10)
4.2 Mata Pencaharian Desa
Sebagian besar masyarakat Desa Karehkel bekerja sebagai petani. Profesi petani tersebut terdiri atas petani lahan dan petani tak berlahan. Hal ini terbukti dari banyaknya lahan pertanian yang ada di Desa Karehkel. Selain petani, mata pencaharian di Desa Karehkel terdiri dari PNS, Pedagang, dan Supir Angkot (Odong-odong). Untuk lebih jelasnya persentase mata pencaharian penduduk Desa Karehkel dapat dilihat pada diagram di bawah ini

Sumber : Laporan KADES Karehkel 2009

Gambar 3. Persentase Mata Pencaharian Penduduk Desa Karehkel
Tahun 2009

Dari diagram diatas, terdapat pola hubungan antara petani berlahan dengan petani tak berlahan. Prtani yang tidak memiliki lahan menjadi penggarap pada petani yang memiliki lahan. Hal ini dapat dibuktikan di lapangan berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu warga yang bernama Ibu Emang. Jadi, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan patron-client antara petani berlahan dengan petani tak berlahan.

4.3 Kelembagaan Pertanian Desa

Masyarakat di Desa Karehkel awalnya menggunakan pertanian konvensional yaitu pertanian sayuran dan padi non organik. Kedatangan Mr. Hwang dari Taiwan untuk melakukan penelitian tanah di Desa Karehkel, telah memberikan suatu perubahan baru pada sistem pertanian di desa tersebut. Disamping melakukan penelitian, beliau juga menawarkan suatu inovasi unuk perbaikan sistem pertanian, yaitu perubahan dari sistem pertanian konvensional menjadi sistem pertanian organik. Namun, hal ini lebih dikhususkan untuk pertanian sayuran. Informasi disampaikan kepada GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani), yang selanjutnya GAPOKTAN menyebarkan informasi ini kepada kelompok tani di desa tersebut.

4.4 Lembaga-Lembaga Masyarakat yang Ada di Desa
Tabel 4.4.1 Kelembagaan Desa
No Data Kelembagaan Jumlah Penduduk
Perempuan Laki-laki
1 Majelis Ta’lim 350 orang 70 orang
2 PKK 100 orang 50 orang
3 Karang Taruna 5 orang 10 orang
Sumber : Laporan Kepala Desa Karehkel, 2009

Berdasarkan data diatas, kita dapat melihat bahwa kelembagaan Majelis Ta’lim merupakan lembaga yang paling aktif dalam melaksanakan kegiatan di Desa Karehkel. Kegiatan tersebut berupa pengajian, yang dilaksanakan setiap satu minggu sekali. Sementara itu kegiatan yang dilakukan oleh PKK tidak dilaksanakan secara rutin, melainkan hanya pada saat-saat tertentu saja. Kegiatan yang dilaksanakan PKK berupa pengajian, koperasi, kelestarian lingkungan hidup dan bina kesehatan. Sedangkan, untuk kegiatan yang dilakukan oleh karang taruna kurang aktif pelaksanaannya.
4.4 Sarana dan Prasarana
Dari segi sarana dan prasarana, Desa Karehkel sudah tergolong cukup baik. Terlihat dari banyak sarana kesehatan yang terdiri dari Puskesmas Pembantu dan Puskesdes. Puskesmas pembantu dibangun oleh pemerintah, dan buka atau memmberikan pelayanan setiap hari, sedangkan Puskesdes dibangun oleh pihak swasta dan buka atau memberikan pelayanan pada hari sabtu. Disamping itu, terdapat sarana transportasi yang terdiri dari angkot (± 70 unit) dan ojek (± 30 unit). Untuk prasarana pendidikan, desa ini memiliki satu bangunan Sekolah Dasar (SD) dan dua bangunan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di Desa Karehkel juga terdapat Koperasi, yaitu Koperasi Pandan Wangi. Koperasi ini lebih banyak beranggotakan perempuan dibandingkan laki-laki.

BAB V
PEMBAHASAN

5.1 Stratifikasi Sosial yang Terbentuk di Desa Karehkel
Mengacu pada pendapat Pitirim A. Sorokin (1959) dalam Soekanto (1987) stratifikasi sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hierarkis). Soekanto (1987) menyatakan bahwa kriteria pembentukan kedudukan sosial diantaranya kekayaan, kekuasaan, kehormatan, dan pendidikan. Kami meninjau bahwa stratifikasi sosial yang terbentuk di desa Karehkel RW 04 dan RW 10 terdiri dari tiga lapisan, yaitu lapisan bawah, lapisan menengah, dan lapisan atas. Berdasarkan hasil turun lapang kali ini, kami menggunakan ukuran kekuasaan sebagai kriteria pembentukan kedudukan sosial untuk ketiga lapisan tersebut.
Untuk memudahkan klasifikasi masyarakat ke dalam lapisan atas, tengah dan bawah, berikut penjelasan dari masing – masing lapisan di Desa Karehkel :
1. Lapisan atas merupakan anggota masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi masyarakat di Desa Karehkel. Di Desa Karehkel orang yang dianggap mempunyai kekuasaan adalah Bapak Yunus (RW 04) dan Bapak Saefudin (RW 10). Hal ini dibuktikan dari hasil turun lapang berdasarkan wawancara dengan beberapa warga di Desa Karehkel. Menurut penuturan beberapa warga, seperti Ibu Emang, Doni, Ibu Samin, Ibu Ratna, Ibu Rina, Pak Sholeh, dll. Mereka sama-sama menyebutkan bahwa orang yang berpengaruh dan disegani di desa tersebut adalah Bapak Yunus di RW 04 dan Bapak Syaifudin di RW 10. Kedua orang tersebut mempunyai kesamaan profesi yang bergerak dalam bidang keagamaan. Mereka dinilai mempunyai kekuasaan karena perkataan dan pendapat mereka yang mengacu kepada Al-Qur’an dan Hadits selalu didengar oleh warga. Selain itu, mereka juga ikut berperan dalam pengambilan keputusan suatu masalah yang terjadi di desa tersebut.
2. Lapisan menengah merupakan anggota masyarakat yang mempunyai posisi sebagai ketua kelompok tani yang bernama Bapak Sholeh (Ketua Kelompok Sugih Tani). Hal ini dibuktikan dari hasil kunjungan dan wawancara kami secara langsung kepada Bapak Sholeh. Dari hasil wawancara, terlihat bahwa beliau memiliki akses informasi langsung terhadap pihak luar yaitu Mr. Huang dari Taiwan tentang sistem pertanian organik. Oleh karaena itu, beliau mempunyai kekuasaan dalam membina anggota kelompoknya. Selanjutnya, anggota kelompok tersebut akan menyebarkan informasi tentang penyuluhan kepada buruh tani.
3. Lapisan bawah merupakan anggota masyarakat yang berprofesi sebagai buruh tani. Mereka tidak memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan secara langsung. Selain itu mereka tidak memiliki sumber daya yang cukup dan tidak mau menerapkan inovasi. Adapun alas an mereka tidak mau menerapkan inovasi pertanian organik karena sistem pertanian ini membutuhlkan modal yang sangat besar untuk pembelian net, perawatan yang sulit dan resiko kerugian yang ckup tinggi apabila mengalami gagal panen.

Berdsarkan penjelasan diatas dapat diilustrasikan melalui tabel di bawah ini :
Tabel 5.1.1 Stratifikasi Sosial di Desa Karehkel
No Kelas Masyarakat Kelompok Masyarakat yang Menempati Temuan Lapang Terkait Aspek Pembentuk
1 Atas Tokoh agama Jawaban dari masyarakat (Ibu Emang, Ibu Rina, Bapak Samin, Bapak Jendi,dll) Kekuasaan
2 Menengah Ketua kelompok tani Berdasarkan hasil wawancara langsung dengan pihak yang bersangkutan (Bapak Soleh) Kepemilikan informasi dan lahan
3 Bawah Petani dan buruh tani Kunjungan dan wawancara langsung Tidak memiliki sumber daya dan akses informasi

Menurut Mac. Iver dalam Soekanto (1987) terdapat tiga pola umum dari sistem lapisan-lapisan kekuasaan yaitu: tipe kasta, tipe oligarkis, dan tipe demokratis. Berdasarkan ukuran kekuasaan dari tiga lapisan diatas, maka pola sistem lapisan kekuasaan yang terbentuk di Desa Karehkel adalah tipe demokratis. Tipe ini menunjukkan kenyataan-kenyataan akan adanya garis-garis pemisah antara lapisan yang bersifat mobile sekali. Tipe demokratis ditentukan dari kemampuan dan keberuntungan seseorang yang berkuasa. Kedudukan yang dimiliki oleh penguasa dari masing-masing lapisan bukan berasal dari kelahiran, tetapi diperoleh berdasarkan usaha mereka sendiri, misalnya tokoh agama yang menduduki lapisan atas di desa tersebut memperoleh jabatan sebagai Ketua MUI karena ilmu yang didapatkan selama bersekolah di pesantren.
5.2 Dampak yang Terjadi Akibat Adanya Stratifikasi Sosial di Desa Karehkel
Stratifikasi yang terdapat pada Desa Karehkel menyebabkan adanya ketimpangan sosial diantara masing-masing lapisan. Hal ini terjadi karena penyebaran informasi mengenai inovasi tentang penerapan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan kurang merata. Lapisan atas yang merupakan pemuka agama tidak memiliki andil dalam menyampaikan informasi mengenai pertanian, karena lapisan ini tidak mempunyai kepentingan terhadap bidang pertanian. Sedangkan, lapisan tengah yang mendapat informasi tentang sistem pertanian berkelanjutan (sistem pertanian organik) dari pihak swasta, hanya menyebarkan ke sebagian wilayah Desa Karehkel. Namun, lapisan bawah yang mendapatkan informasi tersebut tetap menggunakan sistem pertanian konvensial dan tidak melakukan perubahan terhadap sistem pertaniannya. Akhirnya, mereka pun berusaha sendiri untuk memajukan dan mensejahterakan kehidupannya.
5.3 Peran Setiap Lapisan dalam Mengatasi Permasalahan Lapisan Bawah
Di Desa Karehkel terdapat berbagai lapisan masyarakat. Ditinjau dari indikator kekuasaan menurut Pitirim A. Sorokin (1959), kami melihat Desa Karehkel terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan bawah, menengah, dan atas. Kami menggunakan indikator kekuasaan karena indikator tersebut sangat terlihat jelas jika dibandingkan dengan indikator kekayaan, pendidikan dan kehormatan.
Lapisan atas terdiri dari tokoh agama yang disegani oleh masyarakat setempat karena memiliki pengetahuan agama yang kebenarannya sudah dapat dipastikan, sehingga apa pun yang diinformasikan oleh tokoh agama tersebut selalu dipercaya oleh masyarakat. Lapisan menengah terdiri dari ketua kelompok tani kerena ketua kelompok tani memiliki kekuasaan memberitahu dan mempengaruhi anggota kelompoknya dalam pengambilan keputusan pada saat adopsi inovasi berlangsung. Lapisan bawah terdiri dari lapisan petani mandiri dan buruh tani kerena mereka tidak memiliki kekuasaan untuk membuat suatu keputusan adopsi inovasi tetapi mereka hanya dapat menyampaikan pendapat mereka mengenai inovasi tersebut.
Diantara ketiga lapisan tersebut permasalahan yang sering muncul terjadi pada lapisan bawah, yaitu tidak adanya hak atas kepemilikan lahan. Disamping itu lapisan atas tidak berkontribusi atas kesejahteraan petani. Mereka tidak menyokong kehidupan petani, terutama dalam ekonomi. Mereka hanya bertindak sebagai pemberi saran atas penyelesaian masalah tanpa turun langsung menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh para petani. Sedangkan lapisan menengah yang terdiri dari ketua kelompok tani hanya berkontribusi memberikan informasi dan melaksanakan pembinaan pertanian organik untuk petani mandiri dan buruh tani di desa tersebut. Lapisan menengah mendapat pendidikan tentang pertanian organik dari pihak swasta yang bekerja sama dengan IPB. Namun, petani di Desa Karehkel tidak dengan mudah menerima inovasi, karena mereka menganggap pertanian organik mahal dalam segi pelaksanaannya. Kebanyakan dari mereka tetap bertani sayuran non-organik dan padi non-organik yang tidak baik untuk kesehatan. Jadi, lapisan bawah menyelesaikan permasalahan mereka dengan usaha sendiri. Segala keputusan mengenai informasi yang didapat guna meningkatkan taraf hidupnya berada di tangan mereka sendiri.

BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Masyarakat Desa Karehkel terdiri dari tiga lapisan masyarakat, yaitu lapisan atas, lapisan menengah dan lapisan bawah. Pendekatan yang dilakukan dalam kegiatan turun lapang kali ini adalah pendekatan objektif dengan menggunakan variabel kekuasaan sebagai tolak ukur untuk menentukan lapisan masyarakat. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa anggota masyarakat yang termasuk golongan atas adalah tokoh masyarakat (pemuka agama), sedangkan golongan menengah adalah ketua kelompok tani. Sementara itu, golongan bawah adalah buruh tani.
Adapun sistem stratifikasi lapisan masyarakat di Desa Karehkel bersifat terbuka atau disebut Achieved Status. Oleh karena itu tipe masyarakat di desa tersebut dikategorikan kedalam Tipe Demokratis. Peranan antar lapisan mengindikasikan adanya ketimpangan sosial. Hal ini disebabkan kurangnya kontribusi dari lapisan atas maupun lapisan menengah terhadap lapisan bawah. Lapisan atas tidak terlibat dalam membantu permasalahan di bidang ekonomi petani. Adapun lapisan menengah hanya berkontribusi dalam memberikan informasi mengenai inovasi pertanian kepada lapisan bawah.
6.2 Saran
Desa Karehkel merupakan daerah yang potensial untuk mengembangkan sumberdaya di bidang pertanian. Kesempatan ini harus dimanfaatkan oleh para petani, terutama kelompok tani yang sudah terbentuk untuk meningkatkan keterampilan dan hasil produksi pertanian. Di samping itu, buruh tani sebaiknya dapat memanfaatkan informasi yang didapatkan dari kelompok tani yang sudah memiliki pengetahuan yang cukup dalam bidang pertanian.. Hal ini dikarenakan kontribusi dari pihak luar (Taiwan dan IPB) sudah baik dalam memberikan bimbingan kepada kelompok tani di Desa Karehkel.
DAFTAR PUSTAKA

Iver Mac. 1954. “The Web of Government” dalam Sosiologi Suatu Pengantar,
Editor : Soerjono Soekanto, Rajawali Pers : Jakarta
Levinson. 1964. “Role, Personality, and Social Structure” dalam Sosiologi Suatu Pengantar, Editor : Soerjono Soekanto, Rajawali Pers : Jakarta
Roucek S. Joseph, Warren. 1962. “Sociology, an Introduction” dalam Sosiologi Suatu Pengantar, Editor : Soerjono Soekanto, Rajawali Pers : Jakarta
Soekanto Soerjono. 1987. Sosiologi Suatu Pengantar. Rajawali Pers : Jakarta
Sorokin Pitirim. A. 1959. “Social and Cultural Mobility” dalam Sosiologi Suatu Pengantar, Editor : Soerjono Soekanto, Rajawali Pers : Jakarta

LAMPIRAN

EVALUASI
TURUN LAPANG DI DESA KAREHKEL KECAMATAN LEUWI LIANG
KABUPATEN BOGOR

Hari Pertama

Pada tanggal 18 Desember 2009 kelompok kami melakukan turun lapang di Desa Karehkel, Kecamatan Leuwi Liang Kabupaten Bogor. Kemudian kami berkumpul untuk merencanakan kegiatan turun lapang di desa tersebut. Pada hari pertama, sesampainya di Desa karehkel kami bersilaturahmi dengan tuan rumah. Setelah itu kami langsung pergi meminta izin kepada pihak keamanan setempat, ketua RT, ketua Rw, dan Kepala Desa Karehkel untuk meminta izin melakukan kegiatan turun lapang selama tiga hari. Setibanya dirumah Kepala Desa, kami bersilaturahmi dan melakukan wawancara guna mencari informasi mengenai tema yang akan kelompok kami bahas mengenai Peranan Stratifikasi di Desa Karehkel.
Setelah mendapatkan informasi dari Kepala Desa yang mengatakan bahwa di Desa Karehkel terdiri dari 13 RW dan 36 RT, kami memutuskan untuk melakukan kegiatan turun lapang hanya di 2 RW yaitu RW 04 dan RW 10. Hal ini dikarenakan di kedua RW tersebut terdapat perbedaan yang signifikan mengenai stratifikasi masyarakat di desa tersebut. Dalam kelompok kami terdiri dari 10 orang. Untuk lebih efisien dalam mencari informasi, kami membagi kelompok besar menjadi dua kelompok kecil. Kelompok pertama mencari informasi di RW 10, sedangkan kelompok kedua mencari informasi di RW 4. Berdasarkan penelitian yang kami lakukan di RW 4, kami mewawancari 7 informan. Dari perbincangan sementara dengan salah satu informan yang bernama Ibu Emang, kami mendapatkan informasi terkait dengan masyarakat di RW 4 Desa Karehkel diantaranya ialah pada dasarnya masyarakat RW 4 bermata pencaharian sebagai petani. Namun ada juga sebagian kecil masyarakat disana berprofesi sebagai pedagang. Para petani di RW 4 berdiri diatas kakinya sendiri, sebab mereka tidak mendapatkan bantuan baik dari pemerintah, pihak luar desa, maupun warga RW 4 yang notabene sudah berkecukupan.
Berdasarkan hasil survey terhadap warga sekitar, mereka menyebutkan orang yang disegani di RW 4 adalah Bapak Yunus. Sedangkan orang yang seharusnya mendapatkan bantuan aadalah keluarga Ibu Wati. Sehingga kami dapat menarik kesimpulan sementara bahwa pedagang dan petani yang mempunyai lahan sendiri masuk ke dalam lapisan menengah, sedangkan buruh tani masuk ke dalam lahan sendiri. Sementara penelitian yang dilakukan di RW 10, kami mewancarai dua informan secara mendalam. Didapatkan informasi bahwa masyarakat di RW 10 sangat beragam dalam hal mata pencahariannya. Diantaranya petani penggarap, buruh tani, pedagang, dan PNS. Selain itu muncul nama Bapak Saefudin (ketua MUI) sebagai orang yang disegani, dikarenakan masyarakat RW 10 menganggap perkataan beliau itu dapat dipercaya. Informan kedua yang kami wawancarai adalah Bapak Soleh. Beliau mengungkapkan adanya empat kelompok tani yang salah satunya adalah Sugih Tani yang diketuai Bapak Soleh sendiri. Dari penjelasan beliau didapatkan informasi bahwa kelompok tani tersebut mendapatkan pembinaan dari pihak pemerintah dan pihak swasta. Dari kedua pihak tersebut, pihak swasta yang memiliki peranan lebih besar dalam membantu para petani untuk mengembangkan pertanian organik. Selain itu, menurut Bapak Sholeh orang yang paling disegani di RW 10 yaitu Bapak Syaifudin. Jika seseorang yang memiliki kedudukan sosial yang tinggi di desa tersebut melakukan kesalahan akan dikenakan sanksi yakni diacuhkan oleh masyarakat. Berdasarkan hasil evaluasi hari pertama, kami menyimpulkan bahwa data yang kami dapatkan sudah mencapai 60%.

Hari Kedua

Pada tanggal 19 Desember 2009, kami kembali melakukan wawancara untuk melengkapi data yang telah didapatkan pada hari sebelumnya. Kami pun membagi kelompok kami menjadi dua. Kelompok pertama mengunjungi kantor kepala desa untuk mendapatkan peta dan data tentang kependudukan, akan tetapi data kependudukan tidak kami dapatkan dikarenakan orang yang mengurusi data kependudukan tidak berada di desa tersebut. Kelompok kedua mewawancarai dua informan di RW 4 dan didapatkan hasil bahwa orang yang paling disegani di RW 4 adalah Bapak Yunus. Informan tersebut menjelaskan bahwa petani di RW 4 hanya mengontrak lahan pada seorang pengusaha kaya. Mereka tidak mendapatkan bantuan dari pihak luar, tetapi mereka hanya diberi janji suatu program namun kenyataannya tidak dapat terealisasi. Selain dua informan itu, selanjutnya Selain dua informan tersebut kelompok dua mewawancarai Pak Samin. Hampir seluruh hasil wawancara yang didapat memiliki kesamaan dengan dua responden sebelumnya. Dari Bapak Yunus yang disegani, para petani yang menggarap lahannya sendiri dan tidak mendapatkan bantuan dari pihak luar, membeli pupuk di pasar, serta hasil pertaniannya cenderung dikonsumsi sendiri. Para petani di RW 4 masih menanam padi dengan menggunakan pupuk urea dan TSP. Berdasarkan data hari pertama dan kedua dapat kami simpulkan bahwa data yang telah kami dapatkan telah terkumpul 100% .

Hari Ketiga
Pada tanggal 20 Desember 2009 kami tidak melakukan wawancara, tetapi kami melakukan evaluasi akhir. Berdasarkan evaluasi akhir tersebut kami dapat menyimpulkan bahwa kekuasaan adalah sebagai indikator mengenai lapisan pada masyarakat di desa Karehkel. Lapisan atas adalah tokoh agama, lapisan kedua adalah ketua kelompok tani yang berinteraksi dengan pihak luar dan telah menerapkan sistem pertanian konvensional menjadi pertanian organik, dan lapisan bawah adalah buruh tani. Kesimpulan akhir yang kami dapatkan yaitu lapisan atas tidak berkontribusi dalam mensejahterakan kehidupan petani namun hanya terlibat dalam perizinan untuk pendidikan organik farming. Pada lapisan tengah mendapat bantuan dari pihak swasta dan mereka menyebarkan kepada lapisan bawah. Sedangkan lapisan bawah kurang maju dalam bidang pertanian karena tidak mendapat bantuan dari lapisan atas dan tidak mau menerima inovasi dari lapisan tengah.

LAMPIRAN
RENCANA KEGIATAN

Rencana Kegiatan Turun Lapang Sosiologi Pedesaan
No Kegiatan 18 Desember 2009 19 Desember 2009 20 Desember 2009
1. Persiapan Pemberangkatan ke Desa
2. Breafing
3. Survei lokasi
4. Perkenalan dengan warga sekitar
5. Kunjungan ke Kepala Desa
6. Wawancara kepada tokoh-tokoh masyarakat
7. Wawancara beberapa warga
8. Melengkapi informasi yang belum lengkap
9. Berpamitan dengan warga
10. Persiapan pulang ke kampus
11. Evaluasi

Keterangan : tabel yang diarsir adalah kegiatan yang akan kami lakukan.

LAMPIRAN
Data Primer Profil Sosial-Ekonomi
Rumah Tangga yang Ditempati Mahasiswa Saat Turun Lapang
File : Profil Rumah Tangga
Tanggal : 19 Desember 2009
Desa : Karehkel
Kecamatan : Leuwiliang
Kabupaten : Bogor
Provinsi : Jawa Barat
Mata Kuliah/TA : Sosiologi Pedesaan/2009-2010
Kelompok : 2
Anggota Kelompok : 1. Nursyarifah (I34080013)
2. Fami Rahmania Firdaus (I34080026)
3. Selvia Rabiia Zahrah (I34080029)
4. Pradiana Feberia (I34080031)
5. Mareta Tede (I34080033)
6. Rizki Mila Amalia (I34080070)
7. Aldilla Adelia (I34080072)
8. Siti Aulia Andhini (134080100)
9. Putri Ekasari (I34080101)
10. Adinda Ade Mustami (I34080106)

I. KARAKTERISTIK UMUM RUMAH TANGGA
1. Nama Kepala Kel. : Pak Samin
2. Jum. Ang. Keluarga : – Ibu Omah……………………(Isteri) – Een……………………(Anak/L- ………………………..(Anak/L-P)
…………………………(Anak/L-P)
Orang lain, sebutkan
Cucu dari Pak Samin dan Ibu Omah Rianti, Rianto, Riawan, Syifa
3. Pekerjaan : Pedagang dan petani perorangan
4. Lama tinggal di desa : 57 tahun
5. Generasi ke- : 4

II. KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA
1. Ilustrasikan kondisi rumah yang anda tinggali?

Rumah

2. Apa saja aset yang dimiliki oleh RT yang anda tinggali:
L Lahan sawah, seluas? 5 petak
 Lahan kebun, seluas?
 Lahan pekarangan, seluas?
Rumah, bentuk rumah? Tipe 72
Televisi, berapa inchi? 14 inchi
 Radio, jenis radio?
 Motor, jenis dan jumlah?
 Mobil, jenis dan jumlah

2. Berapa pendapatan sebulan KK yang anda tinggali? Rp 1.000.000/bulan. Darimana saja sumber pendapatan yang diperoleh tersebut?

3. Dari setiap tahunnya, bulan kapan bapak memperoleh pendapatan yang lebih dari biasanya?……………………….Apa saja yang bapak/ibu makan saat itu?

4. Kemudian bulan kapan bapak merasakan masa paceklik?…………………………Apa saja yang bapak/ibu makan saat itu?

5. Saat masa paceklik, apa langkah yang bapak/ibu lakukan untuk memenuhi kebutuhan primer keluarga?

LAMPIRAN

PETA KELEMBAGAAN DESA KAREHKEL

• Besarnya lingkaran mencerminkan pentingnya lembaga menurut masyarakat (peserta diskusi).
• Besarnya simbol pria atau wanita mencerminkan persentase banyaknya pria dan wanita di Desa Karehkel.

LAMPIRAN

EVALUASI LOKAKARYA SOSIOLOGI PEDESAAN

Pertanyaan dari Pak Iqbal (Asisten Sosiologi Pedesaan)
1. Apa hubungan ilmu agama yang dimiliki oleh tokoh agama dengan kekuasaan sebagai aspek pembentuk tokoh agama di lapisan atas?
2. Mengapa birokrat (Pamong Desa, RT, RW dan Kepala Dusun) tidak termasuk kedalam lapisan atas?

Jawaban
1. Jika dilihat dari arti kekuasaan itu sendiri, maka kekuasaan merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain. Tokoh agama di desa ini berpengaruh paling besar daripada ketua Kelompok Tani dan buruh tani. Pengaruh yang dimiliki tokoh agama didasarkan pada kepercayaan para warga desa terhadap tokoh agama untuk menyelesaikan masalah yang warga hadapi. Kepemilikan tokoh agama terhadap ilmu agama menyebabkan kepercayaan masyarakat semakin kuat karena pendapat mereka tidak dapat dibantah. Hal ini disebabkan pendapat mereka didasarkan atas Al-Qur’an dan Hadist.
2. Berdasarkan hasil turun lapang dan data yang kami temukan dari para responden, para birokrat tidak termasuk ke dalam lapisan atas karena mereka hanya memilki wewenang dalam mengatur administrasi desa, namun mereka tidak memiliki kekuasaan untuk mempengaruhi warga desa lainnya.